Disamping itu seorang mujahidah dalam praktek berjihad untuk menegakkan kalimat tertinggi yaitu Kalimatullah disaat-saat menghadapi tekanan dan tindasan musuh-musuh Allah, maka para mujahidah wajib mempunyai sikap moral seperti yang digunakan oleh Rasul-Nya,
Disiplin tinggi terhadap pimpinan (taat kepada Mas’ul)
Dalam hal ini seorang mujahidah sanggup melaksanakan perintah mas’ul dalam batas-batas yang haq, kapan dan dimana Allah berfirman dalam surat Muhammad (47):20-21
”Dan orang-orang yang beriman berkata: ”Mengapa tiada diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan didalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalm hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.
Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka ) Apabila tetap perintah pernag (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”
Demikian juga Rasulullah SAW beliau telah memerintahkan agar mujahid/mujahidah siap mentaati pimpinan selama tidak diperintah untuk ma’siat.
Sebagaimana dalam hadistnya” beliau bersabda:
”Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan mentaati (pemimpinnya) dalam segala hal, baik ia suka atau tidak. Kecuali bila ia diperintahkan untukberbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan mentaati.”( HR. Khamsah)
Ditegaskan pula bahwa, mentaati perintah pemimpin yang benar berarti mentaati Rasul, dan mentaati Rasul berarti mentaati Allah, sebagaiman dalam haditsnya Rasulullah SAW bersabda:
”Barang sipa mentaati aku berarti mentaati Allah, dan barangsiapa membangkangku berarti membangkang Allah. Dan barang sipa mentaai pemimpin berarti mentaati aku dan barang siapa membangkang pemimpin berarti/ durhaka kepadaku. ” (HR. Bukhari-Muslim dan Nasa’i)
Selanjutnya Rasulullah SAW menegaskan bahwa barang siapa yang berani meninggalkan ketaatan kepada pimpinan dan meninggalkan jama’ah (memisahkan diri/ keluar) lalu ia mati saat itu , maka matinya adalah meti jahiliyah.
Beliau bersabda:
”Barang siapa membangkang dan memisahkan diri dari jamaah, kemudian ia mati, maka ia mti dalam keadaan jahiliyah.” ( HR. Bukhari-Muslim )
Rasulullah SAW juga pernah menyatakan, bahwa dalam mentaati pemimpin baik kita suka kepadanya atau tidak kita wajib mendengar dan mentaati peritahnya.hal ini termaktub dalam hadistnya yang berbunyi:
”Dengarkamlah oleh kalian dan taatilah (perintah dan nasihat pimpinan) walaupun yang memimpin kalian seorang hamba Habsyi ( Afrika) yang kepalanya sepeti biji kismis, selama ia tetap menegakkan kitab Allah diantara kalian( HR. Bukhari)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar